SirtanioBeli sekarang

Beras organik

Beras Organik Itu Apa, dan Apa Bedanya dari Beras Biasa

Redaksi Sirtanio5 menit baca

Kemasan Beras Putih Organik Sirtanio berdiri di samping karung goni berisi beras putih yang tumpah
Isi artikel
  1. Singkatnya
  2. Yang dimaksud organik
  3. Siapa yang memeriksa
  4. Kenapa butuh dua tahun
  5. Yang nggak dibilang label organik
  6. Cara ngecek di kemasan
  7. Kenapa harganya beda
  8. Pertanyaan yang sering muncul

Label organik di kemasan beras nggak bilang apa-apa soal gizinya. Bukan soal indeks glikemik, bukan soal serat, bukan soal folat. Yang dibilang label itu satu hal, dan hal itu bisa dicek: cara berasnya ditanam dan ditangani sampai ke kemasan.

Ini yang dimaksud organik di beras, siapa yang memeriksanya, dan apa yang bisa kamu cek sendiri di kemasannya.

Singkatnya

  • Organik itu soal cara tanam dan rantainya: tanpa pupuk kimia sintetis, tanpa pestisida kimia sintetis, dari benih sampai gudang.
  • Di Indonesia, standarnya SNI 6729:2016, dan yang memeriksa lembaga sertifikasi organik yang diakreditasi KAN, bukan produsennya sendiri.
  • Kata “organik” nggak boleh dipakai di kemasan tanpa sertifikat dari lembaga itu.
  • Sawahnya harus dikelola organik dulu dua tahun sebelum tebar benih baru panennya boleh disebut organik.
  • Sertifikatnya berlaku tiga tahun dan diperiksa ulang tiap tahun.
  • Yang bisa kamu cek di kemasan: logo Organik Indonesia, nomor sertifikat, dan kode lembaga sertifikasinya.
  • Label organik nggak bilang soal gizi. Beras putih organik tetap beras putih.

Yang dimaksud organik

Dalam standar Indonesia, SNI 6729:2016, pertanian organik itu cara mengelola lahan tanpa pupuk kimia sintetis dan tanpa pestisida kimia sintetis, sambil menjaga tanahnya lewat cara yang butuh musim: pupuk dari bahan organik, pengendalian hama tanpa bahan kimia sintetis, dan penyiangan yang lebih sering.

Tapi standarnya nggak berhenti di sawah. Yang diatur juga benihnya, batas dengan sawah tetangga, catatan produksinya, dan cara berasnya disimpan dan diangkut supaya nggak tercampur beras yang bukan organik. Jadi “organik” itu sifat satu rantai, dari benih sampai kemasan, bukan sifat satu petak sawah.

Beras biasa ditanam dengan aturan yang berlaku buat pertanian pada umumnya, yang membolehkan pupuk dan pestisida kimia sesuai ketentuannya. Bedanya ada di cara, bukan di berasnya kelihatan beda atau nggak.

Siapa yang memeriksa

Ini bagian yang paling menentukan, dan paling jarang dijelasin.

Produsen nggak boleh menyatakan sendiri berasnya organik. Yang menyatakan itu lembaga sertifikasi organik, lembaga di luar produsen yang diakreditasi Komite Akreditasi Nasional, atau KAN. Lembaga itu datang ke lahan, ngecek catatannya, lihat alat dan gudangnya, dan kalau perlu ngambil contoh buat diuji.

Standar yang sama juga bilang: kata “organik”, “organis”, atau “organic” nggak boleh dicantumkan di kemasan atau promosi buat produk yang belum disertifikasi lembaga itu. Jadi kalau kata organik ada di kemasan, di belakangnya seharusnya ada nomor sertifikat yang bisa dicek.

Sertifikatnya berlaku tiga tahun, dan selama tiga tahun itu lembaganya datang memeriksa ulang tiap tahun. Bukan sekali lalu selesai.

Kenapa butuh dua tahun

Sawah nggak bisa jadi organik dalam semalam.

Standarnya mensyaratkan lahan dikelola secara organik dua tahun sebelum tebar benih buat tanaman semusim seperti padi, dan masa itu dihitung dari bukti yang bisa diperiksa: sejarah lahannya, catatan produksinya. Selama dua tahun itu, panennya belum boleh dijual sebagai organik, walaupun cara tanamnya sudah organik.

Buat kamu, artinya beras organik bersertifikat itu beras dari sawah yang sudah dikelola dengan cara itu paling sedikit dua tahun sebelum panen pertama yang boleh dilabeli. Di Sirtanio, petani yang baru bergabung didampingi lahannya selama masa itu, dan selama masa itu hasil panennya belum kami jual sebagai organik. Cerita rantainya, dari sawah sampai rak, ada di artikel perjalanan beras organik kami.

Yang nggak dibilang label organik

Ini bagian yang penting supaya kamu nggak salah beli.

Label organik nggak bilang soal gizi. Indeks glikemik, serat, folat, semuanya ditentukan oleh jenis berasnya dan seberapa jauh berasnya digiling, bukan oleh cara tanamnya. Beras putih organik tetap beras putih: pulen, netral, dan lapisan luar butirnya sudah dilepas. Kalau yang kamu cari angka indeks glikemik, itu urusan artikel indeks glikemik, bukan urusan label organik.

Label organik juga bukan hasil uji residu. Sertifikasi organik memeriksa caranya. Uji residu kimia memeriksa hasilnya, di laboratorium, dari sampel berasnya. Dua pemeriksaan yang beda, dan dua-duanya bisa dipegang produsen yang sama. Beras putih organik Sirtanio punya dua-duanya: sertifikat SNI organik, dan hasil uji laboratorium yang menyatakan nggak ada residu kimia yang tertinggal.

Dan label organik nggak menjanjikan rasa. Yang bikin nasi enak atau nggak itu jenis berasnya, umurnya, dan cara masaknya.

Cara ngecek di kemasan

Tiga hal, dan semuanya bisa dilihat tanpa percaya sama siapa pun:

  1. Logo Organik Indonesia. Produk yang sudah disertifikasi mencantumkan logo itu di kemasan.
  2. Nomor sertifikat dan kode lembaga sertifikasinya, yang dicantumkan di dekat logo. Nomor itu bisa kamu cek ke lembaga yang menerbitkannya.
  3. Masa berlakunya, kalau dicantumkan. Sertifikat organik berlaku tiga tahun.

Nomor sertifikat kami, lembaga yang menerbitkannya, dan sampai kapan berlakunya sudah kami tulis di artikel soal nama Seblang Banyuwangi, bareng dua sertifikat lainnya.

Kenapa harganya beda

Panen organik per hektar lebih sedikit, kerjanya lebih banyak, dan pemeriksaannya berbayar dan berulang. Semuanya masuk ke harga per kilo, dan kalau patokan kamu murni harga per kilo, beras biasa memang lebih murah. Rinciannya, dan apa yang kamu dapat dari selisihnya, ada di artikel kenapa beras merah lebih mahal. Yang ditulis di sana buat beras merah berlaku juga buat beras putih organik.

Pertanyaan yang sering muncul

Beras organik lebih bergizi?

Label organik nggak mengukur gizi, jadi nggak bisa dijawab dari labelnya. Yang menentukan gizi beras itu jenisnya dan seberapa jauh digiling: beras yang lapisan luar butirnya masih utuh bawa serat dan folat lebih banyak daripada beras yang digiling habis, organik atau bukan.

Organik sama dengan bebas residu?

Dua hal yang beda. Organik itu soal cara tanam dan rantainya, diperiksa lembaga sertifikasi. Bebas residu itu hasil uji laboratorium atas berasnya. Produsen bisa punya salah satu, atau dua-duanya.

Beras organik harus dicuci beda?

Nggak. Cara mencucinya sama: dua kali bilas dengan tangan terbuka, jangan dikucek. Yang beda cuma cara simpannya, karena beras organik nggak diberi perlakuan kimia buat mengusir kutu di penyimpanan, jadi wadah kedap udara lebih penting. Caranya ada di artikel cara menyimpan beras.

Sumber angka di artikel ini