SirtanioBeli sekarang

Cara masak

Kenapa Beras Merah Katanya Nggak Boleh Dimakan Tiap Hari? Ini Jawaban Jujurnya

Redaksi Sirtanio4 menit baca

Kemasan vakum Beras Merah Organik Seblang Banyuwangi 1 kg berdiri di depan dinding bata putih, dengan karung goni berisi beras merah yang tumpah dan setangkai padi kering di sampingnya
Isi artikel
  1. Singkatnya
  2. Dari mana kalimat itu datang
  3. Yang perlu dijaga tiap hari itu porsinya
  4. Cara pindah yang nggak bikin kapok
  5. Yang beneran menentukan makan sehat
  6. Pertanyaan yang sering muncul

Boleh. Nasi merah makanan pokok, sama seperti nasi putih, dan nggak ada aturan gizi yang membatasi berapa hari seminggu kamu boleh memakannya.

Tapi kalimat “beras merah nggak boleh tiap hari” itu beredar luas, dan biasanya diucapkan orang yang pernah mencoba lalu berhenti. Jadi yang lebih berguna bukan membantahnya, tapi melihat dari mana kalimat itu datang. Ada empat sumber, dan nggak satu pun soal boleh atau nggak boleh.

Singkatnya

  • Nasi merah boleh dimakan tiap hari, dua kali sehari, seperti nasi putih. Yang dijaga porsinya, bukan frekuensinya.
  • Pindah total sekaligus yang biasanya bikin nggak nyaman, karena seratnya lebih banyak dari yang perut kamu biasa terima. Solusinya bertahap.
  • Masak pertama yang keras yang bikin kebanyakan orang berhenti di minggu pertama, bukan aturan apa pun.
  • Beras yang kelamaan kebuka aromanya berubah, dan itu sering dikira berasnya “nggak cocok dimakan terus”.
  • Yang bikin makan sehat itu variasi lauk dan sayurnya, bukan berapa hari berasnya.
  • Kalau dokter atau ahli gizi kamu mengatur asupan tertentu buat kamu, aturan mereka yang jalan.

Dari mana kalimat itu datang

Sumber pertama: pindah total sekaligus. Beras merah membawa serat lebih banyak daripada beras putih, karena lapisan luar butirnya masih utuh. Kalau kamu pindah dari nasi putih ke nasi merah penuh dalam semalam, perut kamu belum terbiasa sama serat sebanyak itu, dan buat sebagian orang beberapa hari pertama terasa beda. Yang mengalaminya lalu menyimpulkan beras merahnya “nggak boleh tiap hari”. Yang sebenarnya terjadi: perubahannya kecepetan, bukan berasnya salah.

Sumber kedua: masak pertama yang keras. Ini alasan nomor satu orang berhenti makan beras merah, dan hampir selalu soal air dan waktu masak. Nasi yang keras dua hari berturut-turut cukup buat seisi rumah memutuskan “beras merah bukan buat tiap hari”.

Sumber ketiga: berasnya kelamaan kebuka. Lapisan luar beras merah berminyak, dan minyak itu berubah aroma kalau berbulan-bulan kena udara. Beras yang dibeli buat “sesekali” biasanya justru yang paling lama kebuka, jadi tiap kali dimasak aromanya makin nggak enak, dan kesimpulannya makin kuat.

Sumber keempat: kata “asam fitat”. Lapisan luar semua biji-bijian utuh mengandung asam fitat, dan beras merah nggak sendirian di situ: gandum utuh, kacang-kacangan, dan jagung utuh punya lapisan yang sama. Itu sifat biji-bijian utuh secara umum, bukan hal yang membedakan beras merah dari makanan utuh lainnya, dan bukan alasan buat membatasi harinya.

Yang perlu dijaga tiap hari itu porsinya

Kalau ada satu hal yang beneran layak diperhatikan setiap hari, itu bukan hari ke berapa, tapi centong ke berapa.

Nasi merah kalorinya lebih rendah per 100 gram matang daripada nasi putih, dan karbohidratnya dicerna lebih pelan. Dua hal itu nyata, dan dua-duanya hilang kalau porsinya diam-diam naik karena nasinya kelihatan lebih sehat. Angkanya, dan kenapa centong bukan timbangan, ada di artikel nasi merah berapa kalori.

Jadi nasi merah tiap hari itu bukan masalah. Nasi merah tiga centong tiap hari, itu masalah yang sama dengan nasi putih tiga centong.

Cara pindah yang nggak bikin kapok

  1. Campur dulu dengan beras putih, mulai dari satu bagian beras merah buat tiga bagian beras putih, dan naikkan tiap dua sampai tiga minggu. Takarannya ada di artikel mencampur beras merah dengan beras putih.
  2. Tambah airnya sekitar seperempat dari takaran beras putih, dan diamkan 10 menit setelah rice cooker pindah ke warm. Kenapa itu yang menentukan ada di artikel kenapa beras merah sering keras.
  3. Beli secukupnya dan simpan tertutup rapat. Beras merah organik Sirtanio dikemas vakum satu kilogram, jadi berasnya baru kena udara waktu kamu buka. Habis dibuka, pindahkan ke wadah tertutup, jauh dari kompor. Caranya ada di artikel cara menyimpan beras.
  4. Ganti lauknya, bukan berasnya. Yang bikin bosan makan nasi merah tiap hari biasanya lauk yang itu-itu saja, dan itu berlaku buat nasi apa pun.

Kalau yang bikin berhenti rasanya, bukan teksturnya, ada artikel kenapa beras merah sering terasa nggak enak, dan sebagian besar penyebabnya soal cara cuci dan umur beras.

Yang beneran menentukan makan sehat

Bukan berapa hari beras merahnya, tapi apa yang ada di sekeliling nasinya. Setengah piring sayur, lauk berprotein, dan nasi satu centong itu pola yang sama buat nasi merah maupun nasi putih. Satu contoh menu seminggu yang dibangun dari pola itu ada di artikel menu diet seminggu dengan nasi merah.

Satu hal yang di luar jangkauan artikel ini: kalau dokter atau ahli gizi kamu mengatur asupan serat atau karbohidrat kamu buat alasan tertentu, aturan mereka yang jalan, bukan artikel ini. Kami produsen beras organik, dan yang bisa kami bilang cuma soal berasnya.

Pertanyaan yang sering muncul

Nasi merah tiap hari buat anak boleh?

Anak-anak makan nasi merah di banyak rumah, biasanya dicampur beras putih dulu. Soal porsi dan pola makan anak kamu, itu pertanyaan buat dokter anak, bukan buat produsen beras.

Kalau bosan, boleh selang-seling sama nasi putih?

Boleh, dan banyak rumah memang begitu. Dari sisi beras, yang bertahan lama biasanya campuran tetap tiap hari, bukan merah penuh hari ini dan putih penuh besok, karena takaran airnya jadi ketemu satu.

Beras merah harus diselingi beras lain supaya nggak bosan?

Nggak harus, dan yang bikin bosan biasanya lauknya, bukan nasinya. Kalau mau variasi, ganti cara masaknya: nasi goreng dari nasi merah kemarin, nasi campuran, atau nasi merah yang dimasak dengan kaldu.