SirtanioBeli sekarang

Insight

205 Petani, 13 Kecamatan: Perjalanan Beras Organik Kami dari Sawah ke Rak

Redaksi Sirtanio5 menit baca

Kemasan satu kilogram beras merah organik Sirtanio berdiri di samping karung goni berisi beras merah yang tumpah
Isi artikel
  1. Di sawah
  2. Kenapa kami membeli seluruh panennya
  3. Di penggilingan
  4. Kenapa penggilingan sendiri, bukan menyewa
  5. Pemeriksaan
  6. Sampai ke rak
  7. Pelatihan, dan kenapa itu bagian dari rantai ini
  8. Rantainya sepanjang perusahaannya

Beras organik yang dikemas dengan nama Beras Organik Seblang Banyuwangi melewati satu rantai yang seluruhnya bisa kami tunjuk orangnya: dari benih, ke sawah petani mitra, ke penggilingan kami sendiri di Singojuruh, ke pemeriksaan laboratorium, lalu ke rak toko.

Tulisan ini menjelaskan rantai itu tahap demi tahap, dengan angka yang berlaku hari ini.

Di sawah

Beras kami ditanam 205 petani mitra di 13 kecamatan Banyuwangi, di lahan seluas 176 hektar. Mereka bukan pemasok yang kami temui sekali setahun. Mereka mitra yang lahannya kami dampingi, dan hasil panennya kami beli.

Sawahnya dikelola tanpa pestisida kimia. Yang menggantikan bahan kimia adalah waktu dan tenaga: pengendalian hama dikerjakan lebih manual, penyiangan lebih sering, dan kesuburan tanahnya dibangun lewat musim, bukan lewat sekali tabur. Konsekuensinya jujur saja tidak nyaman untuk hitungan bisnis jangka pendek, karena panen per hektar lebih sedikit daripada sawah yang dibantu bahan kimia.

Lima jenis beras keluar dari lahan yang sama. Beras merah adalah yang terbesar, 70% dari seluruh panen kami setahun, ditanam antara lain di Desa Segobang, yang namanya sendiri berarti nasi merah. Beras coklat kami varietas Berlian, varietas lokal Banyuwangi yang sudah dipatenkan dan tidak bisa ditanam di daerah lain. Beras hitam dan beras melik masing-masing hanya 4%. Beras melik butuh 160 hari di sawah, dibanding sekitar 110 hari untuk padi pada umumnya, dan masa tanam sepanjang itu berarti lebih sedikit siklus panen dalam setahun di petak yang sama.

Kenapa kami membeli seluruh panennya

Kami bukan rumah dagang yang membeli gabah dari tengkulak lalu menempelkan merek di atasnya.

Membeli langsung dari petani mitra membuat dua hal mungkin. Pertama, asal berasnya bisa ditelusuri: kami tahu petak mana yang menghasilkan beras di kemasan mana, dan itu syarat yang tidak bisa ditawar untuk sertifikasi organik. Kedua, kepastian harga bagi petaninya, dan itu alasan kelompok ini berdiri pada 1997.

Di penggilingan

Gabah dari 13 kecamatan itu masuk ke penggilingan kami sendiri di Dusun Rumping, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Kapasitasnya 100 ton per bulan.

Di sinilah perbedaan antara beras merah dan beras putih benar-benar dibuat. Keduanya bisa berasal dari padi yang sama; yang membedakan seberapa jauh penggilingan dilanjutkan. Beras merah berhenti ketika lapisan luar butirnya masih utuh, dan lapisan itulah yang membawa warna, serat, dan folatnya. Beras putih digiling sampai lapisan itu lepas.

Karena lapisan luar beras merah mengandung minyak alami, umur simpannya lebih pendek daripada beras putih. Itu sebabnya kami mengemasnya vakum dalam satuan satu kilogram dan memproduksinya dalam jumlah yang berputar cepat, bukan menumpuknya di gudang.

Kenapa penggilingan sendiri, bukan menyewa

Menggiling di tempat orang lain lebih murah, dan kami memilih tidak.

Alasannya bukan penghematan, melainkan pemisahan. Beras organik yang digiling di mesin yang sebelumnya menggiling beras non-organik kehilangan status yang baru saja dijaga selama satu musim di sawah. Sertifikasi organik memeriksa rantainya, bukan hanya lahannya, dan titik paling rawan dalam rantai itu justru bukan di sawah, melainkan di mesin dan di gudang.

Punya penggilingan sendiri juga berarti kami mengatur seberapa jauh butirnya digiling, dan itu yang menentukan beras keluar sebagai beras merah atau beras putih. Keputusan itu terlalu dekat dengan produknya untuk diserahkan ke pihak lain.

Pemeriksaan

Beras tidak bisa disebut organik hanya karena ditanam secara organik. Prosesnya harus diperiksa pihak di luar kami, berulang, bukan sekali lalu selesai.

Yang diperiksa bukan berasnya saja. Pemeriksaan organik menelusuri asal benih, apa yang masuk ke lahan sepanjang musim, catatan panen per petak, sampai bagaimana hasil panen itu dipisahkan di penggilingan dan di gudang. Uji laboratorium menutup rangkaian itu dari ujung yang lain: sampel dari hasil panen diperiksa untuk memastikan tidak ada residu kimia yang tertinggal.

Empat dokumen yang kami pegang, beserta nomornya, tercantum di setiap halaman produk:

  • SNI Organik 6729:2016, diterbitkan SDS Indonesia
  • Uji bebas residu kimia, laboratorium PT Maxzer
  • PSAT, Kementerian Pertanian
  • Halal, BPJPH

Tiga dari empat nomor itu tercetak di kemasan, dan yang kami tampilkan dibaca langsung dari sana, supaya pembeli bisa mencocokkannya dengan bungkus yang mereka pegang. Nomor yang tidak cocok dengan kemasan lebih buruk daripada tidak ada nomor sama sekali. Nomor hasil uji laboratorium tidak dicetak di kemasan, karena nomor laporan lab memang tidak pernah ada di sana.

Sampai ke rak

Beras Organik Seblang Banyuwangi ada di 1.304 titik penjualan di 27 kota — pasar tradisional, ritel modern, dan penjualan khusus — dibawa oleh lebih dari 200 tenaga penjual, ditambah toko resmi kami di marketplace.

Ekspor pertama kami berangkat ke Italia pada 2019, lewat PT KKI / Javara. Sejak 2014 Sirtanio juga menjadi mitra binaan Bank Indonesia.

Pelatihan, dan kenapa itu bagian dari rantai ini

Pusat pelatihan yang kami jalankan sejak 2006 sering dibaca sebagai kegiatan sosial di samping usaha utama. Sebenarnya bukan.

Beras organik bersertifikat tidak bisa dibeli dari sembarang petani. Petani yang belum pernah menanam tanpa bahan kimia butuh pendampingan beberapa musim sebelum lahannya memenuhi syarat, dan selama masa itu hasil panennya belum bisa dijual sebagai organik. Tanpa ada yang menanggung masa itu, jumlah petani organik tidak bertambah, dan pasokan tidak bisa tumbuh.

Jadi pelatihan itu cara kami menambah pasokan, sekaligus alasan kelompok ini berdiri. Menambah petani organik lebih masuk akal daripada memperebutkan petani organik yang sudah ada.

Rantainya sepanjang perusahaannya

Badan usaha kami melewati lima bentuk sejak 1997, dan tiap bentuk menandai satu tahap: kelompok tani Mendo Sampurno pada 1997, pusat pelatihan pertanian organik pada 2006, badan usaha pada 2012, CV pada 2015, dan PT Sirtanio Organik Indonesia sejak 2017. Urutannya, tahun demi tahun, ada di artikel sejarah Sirtanio.

Yang tidak berubah, berasnya tetap datang dari petani yang kami kenal namanya.

Profil petani mitra kami, termasuk bagaimana pendampingan lahannya berjalan, ada di halaman Petani Kami. Kelima jenis berasnya ada di halaman produk.