SirtanioBeli sekarang

Beras hitam & melik

Cerita Dusun Melik dan Beras yang Dulu Katanya Cuma untuk Raja

Redaksi Sirtanio3 menit baca

Kemasan vakum Beras Hitam Melik Organik Seblang Banyuwangi 1 kg berdiri di depan dinding bata putih, dengan karung goni berisi beras melik yang tumpah di sampingnya
Isi artikel
  1. Singkatnya
  2. Ceritanya
  3. Kenapa cerita seperti itu muncul
  4. Yang tersisa dari cerita itu hari ini
  5. Pertanyaan yang sering muncul

Ada dua hal soal beras melik yang bisa kami pastikan, dan satu hal yang cuma bisa kami ceritakan.

Yang bisa dipastikan: berasnya ditanam di Dusun Melik, Desa Parijatah, Banyuwangi, dan butuh 160 hari di sawah. Yang cuma bisa diceritakan: siapa yang dulu boleh menanam dan memakannya. Artikel ini soal yang kedua, dan ditulis dengan satu aturan: cerita ditulis sebagai cerita.

Singkatnya

  • Konon, beras melik dulu cuma buat keluarga bangsawan, dan nggak boleh ditanam sembarang orang.
  • Cerita itu masih hidup di dusunnya, diceritakan turun-temurun oleh petani yang menanamnya.
  • Kemungkinan besar larangan itu dibuat supaya berasnya tersisa buat keluarga bangsawan, dan cerita seperti itu ada di banyak tempat yang punya hasil bumi langka.
  • Yang pasti hari ini: berasnya masih ditanam di dusun yang sama, oleh petani mitra kami, tanpa pestisida kimia.
  • Jumlahnya sedikit bukan karena larangan, tapi karena 160 hari.

Ceritanya

Di Dusun Melik ada cerita yang masih diceritakan sampai sekarang. Dulu, beras hitam yang ditanam di sana konon cuma buat keluarga bangsawan. Petani biasa nggak boleh menanamnya buat dimakan sendiri, dan yang melanggar, kata ceritanya, bakal kena tulah.

Cerita itu juga bilang tempat menanamnya dulu tersembunyi, jauh dari jalan, supaya berasnya nggak sampai ke orang yang nggak berhak. Sebagian orang di sana masih menceritakan bagian tulahnya dengan serius. Sebagian lagi menceritakannya sambil tertawa, sambil tetap menanam berasnya tiap musim.

Cerita itu sampai ke kami dari mulut ke mulut, dari petani yang menanamnya, dan begitulah kami menulisnya di sini: sebagai cerita, bukan sebagai catatan sejarah.

Kenapa cerita seperti itu muncul

Cerita larangan yang menempel pada hasil bumi langka ada di banyak tempat, dan polanya mirip: barang yang jumlahnya sedikit dijaga dengan aturan, dan aturan dijaga dengan cerita.

Buat beras melik, penjelasan yang paling masuk akal sederhana. Berasnya butuh 160 hari di sawah, jauh lebih lama daripada padi biasa, jadi jumlahnya selalu sedikit. Beras yang sedikit dan dianggap istimewa wajar kalau dulu dicadangkan buat keluarga yang berkuasa, dan larangan buat petani biasa adalah cara paling murah buat memastikan cadangan itu nggak berkurang. Kemungkinan besar larangan itu dibuat supaya berasnya tersisa buat keluarga bangsawan, dan cerita tulahnya menyusul buat menjaga larangannya.

Kenapa 160 hari itu yang bikin jumlahnya sedikit, sampai hari ini, ada di artikel soal 160 hari beras melik.

Yang tersisa dari cerita itu hari ini

Larangannya sudah nggak ada. Yang tersisa dua hal.

Namanya. Beras ini masih dipanggil dengan nama dusunnya, bukan nama varietas yang dikarang belakangan, dan bukan nama merek. Di Banyuwangi nama sering menyimpan artinya: Desa Segobang, tempat beras merah kami ditanam, namanya dari sego abang, nasi merah. Nama Sirtanio sendiri dari dua kata Jawa, sir dan tanio, ajakan buat menyukai bertani, dan ceritanya ada di artikel sejarah Sirtanio.

Berasnya. Beras melik Sirtanio masih ditanam di Dusun Melik oleh petani mitra kami, tanpa pestisida kimia, dengan cara tanam yang diperiksa lembaga sertifikasi setiap tahun, lalu digiling di pabrik kami sendiri di Singojuruh. Butirannya masih seperti yang diceritakan: nggak seragam, hitam bercampur coklat kemerahan dan sesekali pucat kehijauan dalam satu genggam. Cara mengenalinya, dan cara masaknya, ada di artikel beras melik.

Jumlahnya tetap sedikit, 4% dari panen kami setahun. Bukan lagi karena larangan, tapi karena kalender sawahnya. Dan siapa pun sekarang boleh memakannya, yang mana kami anggap akhir cerita yang lebih baik daripada aslinya.

Pertanyaan yang sering muncul

Beras melik beneran dulu cuma buat raja?

Itu cerita yang beredar di dusunnya, dan kami menulisnya sebagai cerita. Yang bisa kami pastikan hari ini: berasnya ditanam di Dusun Melik, butuh 160 hari, dan siapa pun boleh memakannya.

Ada tulahnya?

Itu bagian dari ceritanya, dan sebagian orang di sana masih menceritakannya serius. Yang pasti, petani mitra kami menanamnya tiap musim, dan panennya sampai ke kemasan.

Beras melik sama dengan beras hitam?

Dua-duanya beras hitam dan beras utuh. Bedanya melik datang dari Dusun Melik, butuh 160 hari, dan butirannya nggak seragam warnanya, sedangkan beras hitam pekat kami warnanya rata dan gelap.