Gula darah
Kenapa Beras Sering Disebut “Rendah Gula”, dan Kenapa Itu Keliru

Isi artikel
Kalimat “beras rendah gula” itu meminjam istilah dari aturan label makanan kemasan, dan memakainya di tempat yang istilahnya nggak dibuat. Bukan karena angkanya salah, tapi karena angkanya mengukur hal yang nggak relevan buat beras.
Ini penjelasannya, dan di akhirnya ada satu angka yang memang mengukur hal yang kamu cari.
Singkatnya
- Di aturan label makanan kemasan, “gula” itu gula sederhana: gula pasir dan sejenisnya. Pati nggak dihitung sebagai gula.
- Klaim “rendah gula” dibuat buat makanan yang memang manis: permen, sirup, selai, kue, kecap manis. Beras nggak ada di daftar itu.
- Beras memang gulanya kecil, tapi isinya hampir seluruhnya pati, dan pati itu yang jadi gula di badan kamu. Jadi “rendah gula” di beras itu benar secara angka dan nggak berarti apa-apa.
- Yang mengukur hal yang kamu cari adalah indeks glikemik: seberapa cepat karbohidratnya dicerna.
- Dari hasil uji lab, beras merah kami 56, di skala 0–100 yang makin kecil makin bagus, dan 56 itu batas paling bawah kategori sedang.
- Nggak ada beras yang layak disebut rendah gula, termasuk punya kami.
“Gula” di aturan label artinya sempit
Aturan klaim gizi pada label makanan kemasan menetapkan batas buat klaim “rendah gula”: paling banyak 5 gram gula per 100 gram buat makanan padat. Yang jarang dibaca ada di catatan kakinya.
Pertama, yang dihitung sebagai gula cuma gula sederhana: seluruh monosakarida dan disakarida, yaitu gula pasir, gula buah, dan sejenisnya. Pati bukan gula sederhana, jadi pati nggak masuk hitungan itu.
Kedua, klaim itu dibuat buat produk yang memang biasanya manis, dan aturannya menyebut daftarnya: permen, minuman serbuk, jeli, selai, minuman siap minum, kue, topping, saus manis, dan kecap manis. Klaim “rendah gula” ada supaya kamu bisa membandingkan selai dengan selai, atau sirup dengan sirup.
Beras nggak ada di daftar itu, dan memang nggak perlu ada. Nggak ada yang membeli beras karena manis.
Beras: gulanya kecil, patinya besar
Isi beras hampir seluruhnya pati. Angka gula sederhananya memang kecil, jadi kalau kamu cari angka “gula” di tabel gizi beras mana pun, angkanya rendah, dan itu bukan prestasi. Semua beras begitu.
Yang besar itu karbohidratnya. Menurut Tabel Komposisi Pangan Indonesia, nasi merah matang mengandung 32,5 gram karbohidrat per 100 gram, nasi putih 39,8 gram. Karbohidrat itu pati, dan waktu kamu makan nasi, pati itu dipecah jadi gula dan masuk ke aliran darah. Itu cara kerja makanan pokok di badan siapa pun, dan sudah kami urai di artikel apakah beras merah mengandung gula.
Jadi kalimat “beras rendah gula” itu benar secara angka, karena gula sederhananya memang sedikit, dan sekaligus nggak berarti apa-apa, karena yang jadi gula darah bukan gula sederhananya, tapi patinya. Kalimat itu mengukur kolom yang salah.
Yang mengukur hal yang benar
Kalau yang kamu urus gula darah, pertanyaannya bukan “berapa gulanya”, tapi “seberapa cepat patinya dipecah jadi gula”. Yang mengukur itu indeks glikemik, di skala 0–100 dengan glukosa murni di angka 100, dan makin kecil angkanya makin pelan.
Dari hasil uji lab, beras merah organik Sirtanio ada di angka 56. Aturan mutu beras di Indonesia menaruh 56 di batas paling bawah kategori sedang, bukan kategori rendah, dan kami menulisnya begitu. Beras coklat kami di 64. Cara membaca angka itu ada di artikel indeks glikemik, dan cara membandingkannya dengan angka beras lain ada di artikel beras apa yang indeks glikemiknya paling rendah.
Angka 56 itu angka yang bisa kamu bawa ke dokter atau ahli gizi. Kalimat “rendah gula” nggak bisa dibawa ke mana-mana.
Yang bisa kamu cek di kemasan
Kalau kamu ketemu beras yang dijual dengan kata “rendah gula”, ini yang bisa dicek:
- Ada angka indeks glikemiknya, dari hasil uji lab? Itu angka yang mengukur hal yang benar. Kalau nggak ada, kata “rendah gula” nggak menggantikannya.
- Angka karbohidratnya berapa? Kalau ada tabel gizi, lihat kolom karbohidrat, bukan kolom gula. Kolom gula di beras selalu kecil.
- Lapisan luar butirnya masih utuh? Beras utuh dicerna lebih pelan daripada beras yang digiling sampai putih, dari kebun mana pun.
Nggak ada beras yang layak disebut rendah gula sebagai klaim, termasuk punya kami, karena istilahnya memang nggak dibuat buat beras. Yang layak ditulis di beras adalah angka indeks glikemiknya, dan angka itu yang kami tulis.
Porsi tetap ikut menentukan
Indeks glikemik mengukur kecepatan, bukan jumlah. Nasi dengan angka kecil dalam porsi dua kali lipat tetap dua kali lipat, dan itu berlaku buat beras kami juga. Angka per centong, dan kenapa centong bukan timbangan, ada di artikel nasi merah berapa kalori.
Kalau kamu lagi jaga gula darah karena alasan tertentu, atau pola makan kamu lagi diatur bareng dokter atau ahli gizi, angka-angka di artikel ini bahan diskusi, dan bukan pengganti diskusinya. Kami produsen beras organik, dan yang kami tulis angkanya, apa adanya.
Pertanyaan yang sering muncul
Jadi beras merah mengandung gula atau nggak?
Gula sederhananya sedikit, karbohidratnya banyak, dan karbohidrat itu dipecah jadi gula waktu dicerna. Yang beda dari beras putih bukan jumlahnya, tapi kecepatan cernanya.
Kalau beras merah bukan rendah gula, apa gunanya buat yang jaga gula darah?
Karbohidratnya dicerna lebih pelan, jadi gula darahnya naik lebih landai. Itu yang diukur angka 56, dan itu bagian yang nyata. Yang nggak nyata cuma labelnya.
Beras merah boleh buat yang lagi jaga gula darah?
Beras merah pilihan yang masuk akal buat kamu yang lagi jaga gula darah, dan alasannya ada di artikel beras untuk kamu yang lagi jaga gula darah. Target angka dan porsinya tetap dari dokter atau ahli gizi kamu.
Sumber angka di artikel ini
- beras merah rendah gula
- apakah beras merah mengandung gula
- indeks glikemik
- jaga gula darah